Bandung, NU Online Jabar
Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif mengatakan Covid-19 menular dari orang atau melalui benda-benda yang terkontaminasi virus wabah tersebut.

Menurut dia, ketika dihubungi Senin (5/10), jika di sebuah pesantren terdapat santri yang terkena wabah Covid-19, santri yang terkena jangan dulu dipulangkan ke orang tuanya. 

Sementara itu, Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy mengomentari sebuah pondok pesantren di Kuningan yang di antara santrinya ada yang terkena wabah Covid-19. Menurut dia, pemerintah harus memulangkan santrinya.  

“Nah, justru itu, jangan sampai Husnul ini hanya limbah, limbah wabah, dan limbah segalanya, itu. Itu, jadi saya minta pemerintah daerah tegas segera menutup dan memulangkan santri ini, jangan sampai masyarakat jadi korban,” pintanya sebagaimana yang terdokumentasi di sebuah video di channel YouTube Kuningan Ayeuna.

Menurut Syahrizal Syarif justru berbahaya jika santri dipulangkan. Seharusnya dalam kondisi seperti itu, yang pertama dilakukan adalah pemeriksaan interaksi terakhir seluruh santri. Kemudian melakukan swab dan rapid test

Sebab, kata dia, jika santri dipulangkan ke rumahnya, justru dikhawatirkan akan terjadi peluasan wabah ke keluarganya. 

Pada kalimat selanjutnya, Nuzul berbicara soal laundry seperti dalam kalimat berikut ini: 

“Karena Husnul itu ya, selain, ya kita apresiasi tentang pengembangan pendidikannya, tapi di sisi lain, kegiatan kegiatan lain kayak misalnya laundry. Laundry itu kan berapa ribu potong pakaian yang di-laundry-kan. Itu semua masyarakat di sana, nah ini kan, karena terjadi konteks media, ini media kan baik konteks fisik maupun media baju, itu berpotensi untuk penyebaran.”

Pada kalimat terakhir itu, dia menyebut “berpotensi penyebaran”. Dia memang tidak secara khusus menyebutkan penularan Covid-19. Karena dia berbicara pada konteks Covid-19, kemungkinan yang dimaksudnya adalah penularan Covid-19. 

Menurut Syahrizal Syarif, pakaian yang di-laundry kemungkinan besar menggunakan sabun. Justru dengan menggunakan sabun, wabah Covid-19 tidak akan terjadi. 

Kalau Nuzul Rachdi berbicara laundry dalam konteks pencemaran lingkungan, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haedari justru merasa heran, setingkat Ketua DPRD sepertinya malah menyalahkan pesantren.

Seharusnya, menurut aktivis kelahiran Purwakarta ini, dia membantu agar pesantren dan warga masyarakat sekitarnya membekali mereka dalam pengelolaan limbah supaya tidak terjadi pencemaran. 

Nuzul Rachdy Minta Maaf

Nuzul Rachdy menyampaikan klarifikasi soal ucapan limbah Pesantren Husnul Khotimah. Tak hanya itu, ia juga meminta maaf atas pernyataan yang dilontarkannya dalam sebuah konferensi pers didampingi pimpinan DPRD lainnya, H. Dede Ismail dan Hj. Kokom Komariyah.

“Namun demikian apabila kata limbah ini mengganggu kenyamanan berbagai pihak di Kabupaten Kuningan, dengan kerendahan hati saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya,” ujarnya seperti yang dikutip dari Jabar.tribunnews.com.

Sementara Jabar.suara.com melaporkan Nuzul Rachdy megklarifikasi pernyataan ‘limbah’ tersebut. Menurut dia, kata limbah hanyalah sepenggal kata dari serangkaian kalimat yang panjang.

Masih dikutip dari Jabar.suara.com, menurutnya kata ‘limbah’ artinya bukan tuduhan terhadap Pondok Pesantren Husnul Khotimah, melainkan lebih berkonotasi untuk mengingatkan pemerintah agar serius dalam menangani klaster pesantren.

.​​​​​​​Pewarta: Abdullah Alawi 

Sumber : https://jabar.nu.or.id/detail/pakar-epidemiologi-ui-soroti-ketua-dprd-kuningan-terkait-wabah-dan-limbah-di-pesantren

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here