Oleh KH. Ahmad Ishomuddin
Yang dimaksud dengan al-‘alim (العالم) ialah orang yang menggunakan waktunya untuk mendidik (التعليم), memberi fatwa (الإفتاء), menyusun karya ilmiah (التصنيف), dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan al-‘abid (العابد) ialah orang yang memutuskan diri untuk hanya beribadah meninggalkan semua itu, meskipun ia ‘alim (orang yang berilmu). Bukan berarti orang ‘alim yang utama itu yang tidak beramal, dan tidak pula berarti al-‘abid (ahli ibadah) itu orang yang kosong dari ilmu, tetapi yang dimaksud dengan itu al-alim adalah bahwa ilmu merupakan fokus amalnya, sedangkan fokus amalan al-‘abid adalah ibadah berdasarkan ilmunya.

Oleh karena itu, pada prinsipnya ibadah orang yang tidak berdasarkan ilmu (عبادة الجاهل) berpotensi merusak dirinya dan tidak bernilai menurut ajaran agama, sehingga dalam pandangan ajaran agama seorang yang tidak berilmu, al-jahil, itu mustahil menjadi kekasih (wali) Allah ( يستحيل شرعا أن يكون وليا لله تعالى).

Bahwa al-wali itu lebih umum dari al-‘alim,  itu benar. Konon ada yang mengatakan, 
إن الولي هو العالم العامل بعلمه 

Sesungguhnya al-wali adalah al-‘alim (orang berilmu) yang mengamalkan ilmunya, sehingga antara al-wali dan al-‘alim adalah dua hal yang sama.
Ibnu Bun dalam al-Wasilah-nya menyatakan,

والأولياء المؤمنون الأتقياء     فالعلماء العاملون أولياء

Al-Auliya’ (para kekasih Allah) yang beriman itu adalah al-atqiya’ (orang-orang yang bertakwa,

Al-ulama’ (orang-orang yang berilmu) yang mengamalkan ilmunya itu, mereka adalah auliya’.”
Jelasnya sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-Syafi’i, 

إذا لم يكن العلماء أولياء فليس لله تعالى ولي
“Bila ulama itu bukan auliya’, maka Allah tidak memiliki seorangpun wali (kekasih).”

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU.

Sumber : https://jabar.nu.or.id/detail/ulama-itu-kekasih-allah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here