Sumber gambar: http://www.nu.or.id

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo KH. Achmad Chalwani, dalam Pengajian Rutin Ahad Pagi (10/05/20), mengisahkan humor salah satu mahaguru ulama Nusantara: Syekh Nawawi Al-Bantani.

Syekh Nawawi Banten merupakan guru dari Syekh Mahfudz Termas, yang merupakan guru dari Syaikh Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jombang. Syekh Nawawi juga punya paman namanya Syekh Abdul Karim Banten, yang punya murid Syaikh Zarkasyi Berjan, Purworejo, serta Syekh Ibrahim Brumbung, Mranggen, Semarang.

Alkisah, ketika Syekh Nawawi Banten selesai menyusun Tafsir Munir, beliau diundang oleh kampus Al-Azhar (Al-Azhar University) di Kairo, Mesir, untuk diajak diskusi yang berkaitan dengan karya beliau oleh para dosen dan guru besar Al-Azhar.

Memenuhi undangan, Syekh Nawawi Banten berangkat ke Mesir besama pembantunya, namanya Yusuf.

“Kebetulan, Syekh Nawawi itu kan perawakannya kecil, agak kerempeng. Sementara pembantunya, Pak Yusuf, orangnya gagah, tinggi, besar.Jadi yang lebih berperawakan orang besar itu pembantunya,” jelas Kiai Chalwani.

Sebelum di Kairo, mereka istirahat sebentar di kota Iskandariah atau yang sekarang lebih dikenal dengan Alexandria.

Syekh Nawawi Banten bilang ke pembantunya, Yusuf:

“Suf, nanti kalau masuk kampus Al-Azhar kamu yang pura-pura jadi Syekh Nawawi, aku yang jadi pembantu kamu”

“Kok begitu, kiai? Nanti saya ketahuan goblognya?,” jawab Yusuf.

“Ya nanti saya kasih tahu caranya. Soalnya yang berpenampilan dan berperawakan pemimpin kan kamu, bukan saya,” tukas Syekh Nawawi.

“Pak Yusuf itu pembantunya. Orangnya gagah, tinggi, meyakinkan. Potongannya itu ‘alim. Kan kadang-kadang ada orang potongannya ‘alim tapi otaknya manol,”. seloroh Kiai Chalwani.

Akhirnya Yusuf mengikuti apa petunjuk syekh Nawawi Banten. Ia memakai pakaian kebesaran ulama, sementara Syekh Nawawi jalan di belakang sambil bawa tas, persis seperti sales jalan-jalan.

Masuklah keduanya ke kampus Al-Azhar (Al-Azhar University). Protokol pun memberikan pengumuman:

“Kepada para guru besar, para dosen, para ulama, para hadirin, segenap civitas akademika Al-Azhar University. Syekh Nawawi Banten dari Pulau Jawa sudah hadir di tengah-tengah kita. Silakan menjemput dan menghormati Syekh Nawawi Banten, pengarang Tafsir Munir.”

Semuanya berdiri, berebut cium tangan, bersalaman. Tentu yang dicium tangan Pak Yusuf, yang tinggi-gagah berjalan di depan. Sementara Syekh Nawawi berjalan di belakang sambil menbawa tas. Tidak terurus.

“Kasihan nasib pemimpin yang tidak potongan (berpenampilan). Maka penampilan itu penting walaupun tidak wajib,” kata Kiai Chalwani, shahibul hikayat.

Syekh Nawawi pun duduk di belakang sambil membawa tas.

Kemudian pada saat ke mimbar terhormat untuk  menjawab semua pertanyaan, protokol memberi pengumuman:

“Kepada para guru besar, para ulama, para dosen, segenap civitas akademika Al-Azhar University, silakan mengajukan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan karya beliau: Tafsir Munir, karya Syekh Nawawi dari Banten Pulau Jawa. Kepada Syekh Nawawi dipersilakan untuk naik ke mimbar terhormat untuk menjawab semua pertanyaan.”

Naiklah ke podium orang gagah, tinggi, besar: Pak Yusuf, yang sedang berpura-pura menjadi Syekh Nawawi. Sang khadim kiai itu pun kini tampil di podium.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Kepada para guru besar, para dosen, para ulama, segenap civitas akademika Al-Azhar University, sebelumnya mohon maaf. Berhubung saya baru saja menyelesaikan perjalanan jarak jauh, saya dalam kondisi capek, letih, payah. Mohon maaf, saya akan istirahat sebentar. Adapun semua pertanyaan nanti, akan dijawab oleh wakil saya. Saya wakilkan kepada pembantu saya untuk menjawab semua pertanyaan. Saya wakilkan kepada pembantu saya yang kecil ini. Tolong pembantu saya naik ke mimbar terhormat. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Pak Yusuf pun turun dari podium. Girliran “pembantunya” yang naik ke atas podium.

Tampillah orang berperawakan kecil dan agak kurus, menjawab berbagai pertanyaan. Semua pertanyaan dari dosen, para guru besar, ulama, dilalap habis. Terjawab semua. Mereka semua terheran-heran.

“Pembantunya saja ‘alimnya kayak gitu. Kayak apa kalau yang menjawab Syekh Nawawi langsung yang gagah tadi itu,” kata mereka, terkagum-kagum sambil manggut-manggut.

Itulah sekelumit humor Syekh Nawawi Banten. “Di tengah-tengah kesibukan ilmiah, mampu menyelipkan humor. Itu kiai. Nggak spaneng kalau ikut kiai,” pungkas Kiai Chalwani, menutup cerita.

Oleh: Ahmad Naufa KhoiruL Faizun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here