Foto Istimewa

Santri tempo dulu, mengaji sembari berperang menghadapi penjajah negeri. Sedangkan santri masa kini, mengaji sembari berperang menghadapi wabah pandemi. Tantangannya setaraf, syahidnya pun sepadan. Sebagaimana Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menyatakan, Covid-19 merupakan wabah (tha’un).

Oleh karena itu, orang yang meninggal akibat Covid-19 adalah syahid fil akhirah. Belakangan ini Covid-19 sudah mulai masuk ke klaster pesantren. Para santri dan kyai sudah banyak yang terserang, akibatnya pengajian menjadi terhalang, dan santri pun menjadi pulang.

Misalnya di Pondok Pesantren Husnul Khatimah Kuningan, tercatat bahwa santri yang positif sudah mencapai 412 orang (sumber : detik.com) Karena tingginya angka santri yang positif dan berpotensi besar dapat menyebar, sampai ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy menghimbau,“Jangan sampai Husnul ini hanya membawa limbah, limbah wabah dan limbah segalanya”. Alhasil memunculkan image baru bahwa ‘Ponpes pembawa limbah’.

Berbicara mengenai “limbah”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) limbah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga, mencemarkan air di daerah sekitarnya. Limbah diasumsikan sebagai kotoran, sementara pesantren adalah perguruan suci,  tempat mendidik para calon ulama dan kiai, serta para penerus pemimpin negeri.

Oleh karenanya sangat tidak relevan penempatan kata ‘limbah’ disandingkan dengan pesantren. Apalagi keberadaan pesantren yang membawa berkah bagi masyarakat di sekitarnya. Masyarakat sekitar bisa menjadikan pesantren sebagai wadah aji mumpung meraup untung memetik rezeki dengan membuka usaha loundry, usaha kuliner, jasa cukur, dan lain-lain, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Jadi lebih tepatnya pesantren bukanpembawa limbah, tapi pesantren pembawa berkah.

Menteri Kesehatan, dr. Terawan Agus Putranto menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia agar tetap menjaga diri supaya tidak terjangkit Covid-19. Ini merupakan upaya dalam memutus rantai penyebaran Covid-19. Mengaji memang penting, tetapi menjaga diri lebih penting. Jangan sampai mencelakakan diri sendiri, apalagi memudaratkan orang lain, karena menjaga diri (jiwa) tergolong ke dalam salah satu tujuan syara’ (maqashid syari’ah).

Menurut Imam Ghazali, untuk menuju pada tujuan syara’ yakni maslahah, harus memperhatikan lima perkara, yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan dan menjaga harta benda. Sebab menjaga diri termasuk tipikal santri tangguh di tengah pandemi.

Beragam kebijakan sudah diterbitkan oleh pihak pesantren. Di antaranya ada sebagian pesantren yang inisiatif memulangkan para santrinya sementara waktu dan melaksanakan kegiatan pembelajaran secara online. Hal ini tentu akan berbeda dengan pembelajaran secara offline. Dengan kata lain terjadi hilangnya barisan ‘para pencari berkah kyai’.

KH. Ahmad Munawar Hidayatulloh mengatakan, “Berkah guru itu lebih utama daripada ilmu guru”. Sedangkan membantu guru, membersihkan rumah guru, memberi makan peliharaan guru, mencuci pakaian guru, dan lain-lain, yang sering santri jadikan sebagai ajang pencarian barokah guru, mustahil dilakukan secara dalam jaringan (daring).  Ditambah lagi kurangnya caracter building dengan mencontoh teladan para kyai yang dibungkus dalam bentuk ta’dim dan ta’lim. Sebab mengingat pentingnya adab (karakter), karena adab itu di atas ilmu.

Di samping itu, terdapat sekelompok pondok yang masih istiqomah dan memilih tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran seperti biasa. Namun, para santri dituntut dengan new habit agar tidak dikatakan ‘limbah pandemi’, seperti memakai masker ketika hendak pergi mengaji, mencuci tangan setelah bersalaman, menjaga kebersihan diri dan lingkungan asrama, mengikuti protokol kesehatan, dan lain-lain.

Selaku santri milenial harus pandai bersyukur, karena Ummi Pipik Dian Irawati seorang pendakwah berkebangsaan Indonesia menyatakan Covid-19 adalah tentara kecil Allah yang dikirim sebagai teguran bagi umat manusia, yang lupa akan nikmat sehat. Pimpinan Pondok Pesantren Cipasung Drs. KH. A Bunyamin Ruchiat, M.Pd, mengintruksikan kepada para santrinya dalam menyikapi pandemi saat ini yang terpenting “jaga iman, kuatkeun imun, tarikeun amin, supaya aman”.

Jaga Iman, jangan sampai takut kepada corona melebihi takutnya kepada Sang Pencipta corona, karena sudah banyak terjadi yang gantung diri akibat tidak tahan akan krisis ekonomi di tengah pandemi, terlilit hutang, tertambat bayaran, lebih percaya dan lebih mengharapkan bantuan dari pemerintah daripada bantuan dari Tuhan yang Maha Esa.

Kuatkeun Imun (memperkuat imun), ini salah satu ikhtiar lahiriah kita dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Terlebih lagi Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj mewajibkan seluruh masyarakat Indonesia khususnya santri untuk mengikuti protokol kesehatan selama Covid-19 masih mewabah. Dengan dalih jika tidak mengikuti protokol kesehatan akan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Hal itu jelas bertentangan dengan hadis nabi yang berbunyi la dhororo wa la dhiror yang artinya tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.

Tarikeun Amin (kencangkan Amin), selain melakukan ikhtiar zahir perlu juga ikhtiar batin, dengan memperbanyak zikir, doa, dan wirid, seperti mendawamkan li khamsatun,  syair doa yang diijazahkan oleh muasis (pendiri) Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari. Mengingat kita hanya makhluk kecil yang tidak punya daya dan upaya kecuali atas izin Allah.

Sebagaimana dawuh ki santri, “dekati dulu Sang Ilahi, maka segala pertolongan akan menghampiri. Dekati dulu Sang pencipta corona ini, agar corona cepat hilang dari muka bumi. Dekati dulu Sang kyai, agar cepat mendapat restu jadi menantu kyai”.

Oleh karena itu, bila corona hilang, ngaji pun tenang. Kita para santri hari ini  harus membuktikan dengan menjadi santri tangguh di tengah pandemi. Mengedukasi pencegahan, bukan memperkeruh keadaan. Memberikan arahan untuk bersyukur, bukan membuat bingung dengan berita simpang siur. Mendo’akan, bukan membuat perpecahan. Peduli sosial bukan arena panjat sosial. Berinformasi dengan aktual, bukan berpendapat yang tidak diimbangi dengan pengetahuan akal. Menginformasikan terkait wabah, bukan memfitnah pemerintah, dan mengajak tanpa mengejek, karena ‘santri bukan limbah pandemi.

Oleh : Farhan Abdillah
Editor: A.Rachmi Fauziah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here