Foto istimewa

*Eksplor pengetahuanmu dengan menulis*

Sebuah slogan bahwa diam itu emas mungkin hari ini sudah tidak relevan. Pasalnya, tepat di era industri 4.0 di mana diskrupsi informasi atau hoax mewabah di mana-mana. Kang Santri yang diidentikan dengan julukan kaum sarungan ini harus mulai mampu membaca perkembangan zaman.

Sebuah maqolah المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلاح yang selalu digaungkang oleh para sesepuh kita harus menjadi sebuah motivasi dan dorongan agar mampu memperbaharui kemampuan sesuai dengan kebutuhan zaman demi kemaslahatan bersama. Dalam hal ini penguasaan santri dalam literasi digital untuk membaca algoritma perkembangan dunia tentunya harus mendapatkan bimbingan serta dukungan agar mine of brain tehadap dunia luar para santri dalam hal ini mejadi lebih aware..

Jika melihat perkembangan media digital dalam kehidupan sosial ini maka bisa terjadi dua kemungkinan yang akan terjadi.Pertama, santri menjadi agen of change yang tentunya akan mendapatkan keberkahan dari pergerakannya. Kedua, jika santri tidak mau menjadi agen of change atau pelaku perubahan maka ia akan benjadi korban dari perubahan itu sendiri, yaitu termakan diskrupsi informasi akibat kelalaiannya tidak mau turut andil mencounter isu-isu yang tidak layak di konsumsi masyarakat.

Tercatat dalam website resmi Kementrian Komunikasi dan Informasi (KOMINFO) sekitar 63 juta orang penduduk Indonesia menjadi konsumen internet. Dan sebanyak 95% menjadi pengguna internet untuk mengakses jejaring sosial. Hal ini menunjukkan betapa internet sudah menjadi bagian kehidupan yang tak terpisahkan dari kalangan tua sampai muda.

Dari arah sini, terdapat benang merah yang dapat ditarik yaitu, sangat dibutuhkan sekali berita atau informasi yang benar-benar sehat, baik secara lisan maupun tulisan. Karena faktanya media sosial ini menjadi garda terdepan tersebarnya berita palsu di kalangan masyarakat. Santri sebagai penerus ulama yang memiliki citra baik harus mau dan mampu memberikan warna pada perkembangan zaman.

Jika bukan santri lantas siapa lagi? Jika orang-orang baik dan alim yang mewariskan kebijaksanaan dari para ulama tidak mau berbicara, lantas bagaimana nasib negeri ini? Apakah media digital akan terus dikuasai oleh orang-orang yang mau menjatuhkan keutuhan negara ini? Apakah kaum sarungan akan terus diam saja mendengar ujaran kebencian dan provokasi orang-orang tidak bertanggungjawab terus bertebaran?. Tentu penulis tidak mengamini hal tersebut.

Sebagaimana pernah disampaikan oleh guru penulis, santri harus bisa menempatkan term tawadlu dan tidak mau. Karena keduanya memiliki perbedaan yang tipis. Oleh karena itu pintarlah melihat konteks dari pengamalan tawadlu tersebut. Dari sini lah penulis yang juga seorang santri memiliki PR betapa tantangan sekaligus peluang itu sangat besar.

Ayok nulis!!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here