Santri Putri Sirojul Huda Kabupaten Bandung mengaji dengan mengetatkan protokol kesehatan (Foto:NU OnlineJabar/Chandra Gupta)

Beberapa waktu lalu, Bupati Kabupaten Bandung Dadang M. Naser mengaku kecolongan karena terjadi peningkatan warga tertular Covid-19 di beberapa klaster, di antaranya klaster pesantren. Oleh karena itu, wilayahnya disebut sebagai zona merah.

“Ada peningkatan di klaster pesantren. Ada dua pesantren yang kena di Kabupaten Bandung,” ungkapnya seperti dikutip di news.detik.com, Rabu, (18/11). “Kita sekarang ditegur sama pemerintah provinsi menjadi merah,” ujar DadangSebaran Covid-19 ini disinyalir salah satunya ada di Pondok Pesantren, sebagaimana telah disinggung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tentang fenomena klaster Pondok Pesantren yang mengungkapkan adanya penyebaran Covid-19 di lingkungan Pondok Pesantren di Jawa Barat, seperti dikutip dalam harian online Kompas.com, (9/11/2020).

Dengan adanya klaster pondok pesantren ini, beberapa pondok pesantren yang telah mengadakan proses belajar mengajar terpaksa harus meliburkan kembali santri-santrinya, guna mencegah penyebaran Covid-19. 

Namun ada pula yang tetap melaksanakan kegiatan belajar dengan mengetatkan protokol kesehatan sebagaimana imbauan pemerintah. Salah satu pondok pesantren yang tidak meliburkan santrinya adalah Pondok Pesantren Sirojul Huda, Desa Parungserab, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.

Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Huda KH Tohir Ar Rohili menyampaikan bahwa dirinya mengambil kebijakan tak memulangkan santri demi kemaslahatan yang lebih utama. Pasalnya kalau santri dipulangkan dikhawatirkan akan tertular pada saat perjalanan pulang ke kampungnya.

“Justru kalau dipulangkan dikhawatirkan malah tertular di jalan dan membawa virus ke kampungnya. Lebih baik terus ngaji, di samping dapat pahala mencari ilmu, sekaligus pahala menjauhkan mudarat bagi orang banyak,” ungkap ajengan yang akrab disapa Kiai Oing ini.

Menurut Kiai Oing, keputusannya itu diambil sejak munculnya Covid-19. Sejak saat itu pula santri tidak diizinkan pulang. Kegiatan tetap berjalan sebagaimana biasanya, dengan menambahkan protokol kesehatan sebagaimana imbauan pemerintah.

“Tadi tea, kalau pulang malah dikhawatirkan terjangkit virus di jalan, menularkan ke keluarga dan tetangga. Balik lagi ke pesantren, bawa virus ke pesantren. Lebih banyak madharat-nya kalau pulang,” tegasnya.

Kiai Oing juga menyampaikan, pemberlakuan protokol kesehatan dilakukan dengan mewajibkan santri untuk menggunakan masker baik di dalam kobong (asrama santri), kelas, maupun di luar ruangan. Kemudian menyediakan tempat mencuci tangan untuk santri dan menjaga jarak antarsesama santri saat mengikuti semua kegiatan di pondok pesantren yang melibatkan kegiatan tatap muka.

“Alhamdulillah, dengan tidak memulangkan santri, tidak meliburkan pesantren, serta menerapkan 3 M, sampai hari ini di Pesantren Sirojul Huda tidak ada kasus orang terjangkit Covid, baik santri maupun keluarga pesantren,” ujar Kiai Oing.

Ia berharap agar pesantren yang dipimpinnya, serta pesantren-pesantren lain, dan seluruh warga masyarakat, khususnya di Kabupaten Bandung terhindar dari wabah Covid-19. 

Pewarta: Chandra Gupta (Sumber:NU Jabar Online)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here