Foto: Dokumentasi laduni.id

Periode Rintisan Pertama

Di sebuah desa bernama Dukuh Jati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu hiduplah seorang yang ‘alim  bernama KH.MASDUKI dan Nyai Hj. Ruduh. Beliau berdua menjadi tokoh agama yang disegani sebagai sosok alim yang menghidup-hidupi sebuah langgar bernama As-salam. Penamaan langgar tersebut didasarkan pada sifat humanis masyarakat sekitar yang selalu mengucapkan salam ketika bertemu dengan sesama muslim.

Karena masih terbilang jarang sekali guru agama di desa tersebut, beliau berdua pada akhirnya mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan ilmu agama pada warga sekitar. Mayarakat berdatangan untuk sekedar mengikuti pengajian dilanggar. Semakin hari langgar tersebut didatangi para santri yang ingin mendalami agama kepada keduanya.

Barulah pada masa pra kemerdekaan, sekitar tahun 1936- 1943 M para santri diintruksikan Kiai Masduki menjadi tentara Hizbullah guna melawan pasukan Jepang. Keberadaan pesantren tersebut sangat diwaspadai oleh pasukan Jepang, karena pesantren menjadi markas persembunyian para pasukan hizbullah yang tidak lain para santri sendirilah yang menjadi tentaranya. Walau demikian, kegiatan pengajian ala pesantren masih tetap berlangsung di tengah ketegangan melawan para penjajah.

Periode Rintisan Kedua

Pada masa ini, pesantren semakin berkembang. Daya tampung untuk para santri yang tidak memadai akhirnya membuat para sesepuh, putra Kiai Masduki, KH Munjid Masduki (adik) dan KH. Muhsin berinisiatif untuk mendirikan tempat mukim yang layak bagi para santri.

Sebuah tanah waqaf dari para dermawan,  H. Mahmud, Hj. Timmi, H. Husain dan H. Suparih dengan sukarela menyerahkan sebidang tanah garapan seluas 20 meter dengan lebar 15 meter (pada saat itu), sehingga jumlah keseluruhan 300 meter persegi. Akhirnya pada tanggal 15 oktober 1958 pondok pesantren al quraniyah resmi ditempati dan diresmikan oleh KH. Manshur pengasuh pondok pesantren An-Nur, Desa Soditan Lasem Rembang  Jawa Tengah yang masih menjadi kerabat keluarga pesantren.

Tercatat jumlah santri  saat ini lebih kurang 300 orang, 175 santri putra, dan 125 santri putri, yang datang dari pelbagai wilayah. Dari jumlah tersebut, 60% santri berasal dari daerah desa Dukuhjati dan sisanya, 40% berasal dari  luar Kota, seperti, Banten, Tangerang, Losari, Bangodua, Kertasemaya, Pekalongan, cirebon, dan indramayu.

Sejak awal pendirian Pondok Pesantren al-Quraniyah, pesantren ini berkonsentrasi pada ilmu agama (tafaqquh fi al-din) dan mengembangkan potensi para santri dengan mengadakan pelatihan dakwah serta menyebarkan para santri ke pelosok-pelosok desa guna mempersiapkan diri di kehidupan bermasyarakat kelak. Dikutip dari laduni.id pesantren ini turut mengembangkan keterampilan seperti ternak ikan lele, dan tata boga.

Adapun sistem pesantren sampai saat ini masih berpegang teguh dengan sistem salaf dengan mempelajari kitab-kitab turots. Di samping itu, ciri khas yang menonjol dari pesantren ini ialah turut berkonsentrasi pada santri yang ingin menghafal al-Qur’an dan mempelajari pelbagai metode tilawati. Mengikuti perkembangan zaman pesantren pun mendirikan pendidikan formal dari jenjang TK (Taman kanak-kanak), MI (Madrasah Ibtidaiyyah), SMP (Sekolah Menengah Pertama), SMA (Sekolah Menengah Atas).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here