Foto: Dokumentasi Pontren Pagelaran III (Santriwati pulang mengaji)

Pada abad 20-an tepatnya pada tahun 1962 telah berdiri Pesantren Pagelaran III yang berada di Desa Gardusayang Cisalak Subang. Pesantren Pagelaran III sudah berdiri sejak 50 tahun lalu. Sejarah awal berdirinya Pesantren Pagelaran ini pada tahun 1910 ketika Bupati Sumedang Pangeran Dalem (Pangeran Wiriakusumah) membutuhkan sosok pemuka agama untuk membimbing masyarakatnya. Pada saat itu bupati Sumedang meminta kepada bupati Garut untuk mengirimkan seorang ulama.

Ketika itu bupati Garut menugaskan para ulama di daerahnya dan salah satunya adalah K.H Muhyiddin atau sering disebut dengan Mama Pagelaran untuk mengunjungi Sumedang. Tempat yang pertama ia kunjungi adalah daerah Cimalaka. Kemudian disana beliau mendirikan pesantren yang dikenal sebagai Pesantren Cimalaka. K.H Muhyiddin mempunyai jiwa berjuang dan semangat dakwah yang sangat tinggi, ketika pesantren di Cimalaka sudah cukup berkembang, Pesantren tersebut ia serahkan kepada muridnya.

Sekitar tahun 1920-an, beliau berpindah tempat ke daerah Tanjungsiang Subang, tepatnya Desa Cimeuhmal dan mendirikan lagi pesantren yang diberi nama, Pesantren Pagelaran I. Pada saat itu merupakan masa-masa perjuangan melawan Belanda. Beliau pun aktif berjuang dengan putra-putranya serta tergabung dengan tentara Hizbullah. Pada saat itu Pesantren Pagelaran I dijadikan sebagai markas pejuang. Jika ada warga yang akan berjuang maka dikumpulkanlah mereka disana untuk latihan, berdoa, dan diberikan amalan-amalan oleh beliau.

Sekitar tahun 1950-an, ketika perlawanan terhadap Belanda sudah mereda, diganti dengan adanya DI-TII, keadaan pesantren pada saat itu menjadi serbasalah karena pihak tentara mencurigai bahwa pesantren dan K.H. Muhyiddin itu merupakan anggota dari DI-TII, dan sebaliknya DI-TII pun menyangka bahwa K.H. Muhyiddin adalah pihak tentara. Karena melihat kondisi seperti itu dan sudah tidak aman, banyak sekali gerombolan dan pesantren sering diserang, maka K.H. Muhyiddin hijrah ke Sumedang tetapi bukan ke daerah Cimalaka lagi, melainkan ke daerah lain yaitu dekat dengan Masjid Agung Sumedang dan mendirikan Pesantren Pagelaran II pada tahun 1952-an.

Ketika pesantren di sana sudah mapan, beliau diminta masyarakat Gardusayang, Cisalak Subang untuk merehab mental bekas gerombolan DI-TII. Di sana beliau mendirikan lagi pesantren yang saat ini dikenal dengan Pagelaran III pada tahun 1962. Selanjutnya kepemimpinan Pesantren Pagelaran II dilanjutkan oleh anaknya. Pada tahun 1973, beliau berpulang ke Rahmatullah pada usia 97 tahun dan dimakamkan di Cimeuhmal.

Putra-putra beliau menamakan Pesantren Pagelaran di Cimeuhmal menjadi Pondok Pesantren Pagelaran I, pesantren di Kaum Sumedang menjadi Pondok Pesantren Pagelaran II dan Pesantren Pasirnaan di Gardusayang sebagai Pondok Pesantren Pagelaran III. Jika biasanya penamaan pesantren itu menggunakan nama yang berawalan Al, maka lain halnya dengan pesantren Pagelaran. Arti kata dari Pagelaran itu sendiri dalam bahasa sunda maksudnya adalah “Ngagelarkaeun elmu”, artinya menyebarkan ilmu.

Sepeninggal beliau maka kepemimpinan Pesantren Pagelaran III dilanjutkan oleh anaknya yang bernama K.H. Abdul Qoyum Muhyiddin. Tentu saja dalam mengembangkan dan mempertahankan pesantren ini untuk tetap berdiri itu tidak mudah dan membutuhkan perjuangan. Namun dengan tekad dan kerja keras beliau, Pesantren Pagelaran III ini dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada awalnya pesantren ini merupakan pesantren salafiyah atau pesantren yang khusus mempelajari kitab-kitab kuning. Ketika tahun 1962 sistem pendidikan sudah mulai menggunakan kelas-kelas. Selain sistem klasikal di luar kelas, ada juga sistem sorogan, sistem sorogan ini bukan dilakukan di kelas, tetapi santri datang menghadap ke gurunya dengan membawa kitab yang akan dipelajari. Biasanya santri-santri berkelompok 4-5 orang untuk mendatangi gurunya, namun tidak hanya mendatangi K.H. Abdul Qoyum Muhyiddin, santri pun menghadap kepada kiai-kiai yang lainnya dan itu dilakukan di luar jam kelas.

Pada akhir tahun 90 an, tepatnya tahun 1999 Pesantren Pagelaran mendirikan pendidikan formal SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas). Selain itu, terdapat beberapa kegiatan penunjang potensi santri seperti pelatihan dakwah , keterampilan bahasa Arab dan Inggris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here