Novel Wigati Edisi Revisi

Nikah siri yang selama ini kita kenal, bukanlah sebuah sistem pranata (resmi) di tengah masyarakat yang dilembagakan oleh aturan pemerintah. Ia merupakan penamaan non-formal untuk menyebut peristiwa pernikahan yang tidak dilakukan di bawah pengawasan Kantor Urusan Agama (KUA).

Sebuah peristiwa yang tidak pernah diharapkan itu ternyata terjadi kepada Wigati, korban masa lalu kelam ke dua orangtuanya. Wigati menjadi tokoh utama dalam novel tersebut dengan menceritakan sudut pandang Manik, sahabat Wigati. Diceritakan bahwa Wigati merupakan santri Pondok Pesantren Darul Islam Kembang Kuning Prajurit Kulon Mojokerto yang terkenal dengan ke wingit an nya.

Ia terlahir dari pernikahan siri seorang ibu berketurunan empu (pembuat keris) dan sang ayah dari keluarga pesantren terpandang. Ia pada akhirnya menempati situasi pelik, antara mengutuknya sebagai sebuah kesalahan masa lalu yang tidak bisa dimaafkan atau menerima dengan kompromi bahwa hal itu adalah kelalaian orangtua nya yang mungkin saja terjadi akibat keterbatasan nalar yang dimiliki keduanya.

Narasi nikah siri ini tidak hanya menjadi narasi sosial masa lampau. Akan tetapi, fenomena tersebut sangat relevan dengan realitas yang banyak terjadi saat ini. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa dampak negatif dari pernikahan tersebut sangat merugikan salah satu pihak, yaitu perempuan.

Perempuan merupakan pihak yang dirugikan karena pernikahan tersebut tidak memiliki payung hukum yang kuat jika suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti ditinggalkan oleh suami, risiko kekerasan, dan seringkali berimbas pada status anak dari hasil pernikahan tersebut. Mungkin tidak hanya lakon Wigati saja yang harus hidup dan menanggung derita masa lalu. Namun, Wigati Wigati lainnya di luar sana yang mengalami hal serupa perlu menjadi perhatian kita bersama.

Novel ini mengisahkan pergumulan batin Wigati yang dikemas epik dalam latar pesantren dan dunia perkerisan. Berawal dari kejadian Ida Bojonegoro yang kerasukan jin, membuat seisi pesantren terasa mistis. Tapi kedatangan Wigati yang menjadi pahlawan suwuk di tengah ketegangan tersebut berubah menjadi buah bibir warga Daris, sebutan para santri bagi pesantren Darul Islam. Wigati yang dikenal sangat pendiam, minimalis dalam berkomunikasi dengan santri lainnya, ternyata menyimpan sebuah kekuatan para leluhurnya.

Sejak saat itu, Manik merasa tertarik untuk berteman dengannya, ia merasa bahwa kemistisan Wigati itu satu hal yang menarik. Ia yakin bahwa Wigati menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui oleh siapapun. Kekeramatan Wigati itu ditengarai saat ia melakukan ritual mandi setiap matahari surup dengan air berwarna merah seperti darah.

Tidak berhenti di sana, misteri kehidupan masa lalu Wigati datang silih berganti setelah ia membaca sebuah kitab kuno beraksarakan Jawa dan buku harian hijau miliknya. Berlanjut dengan kedatangan Kang Jati yang mengirimkan sebuah keris bernama Nyai Cundrik Arum berbentuk patrem. Yaitu sebuah keris kecil yang dibuat sebagai senjata bagi kalangan putri istana. Wigatipun harus mempertemukan pasangan keris tersebut dengan sebuah keris bernama Keris Kiai Rajamala yang tidak lain pemiliknya tersebut adalah ayahnya sendiri.

Seorang ayah yang tidak mengharapkan kehidupan anaknya dan meninggalkan ibunya untuk memilih hidup bersama perempuan pilihan orang tuanya. Kisah getir inilah yang membuat gejolak hati Wigati untuk bersikeras tidak mau bertemu dengan ayahnya tersebut. Terlebih ibunya meminta agar dirinya menutup rapat masa lalu yang kelam tersebut.

Hingga pada suatu hari, Kang Jati menyampaikan pesan Kiai Ali Muqoddas, ayah Wigati, untuk bertemu dengannya karena sebuah alasan bahwa Wigati harus bertemu wali nikahnya, serta keadaan Kiai Ali yang semakin menurun kesehatannya. Akankah keduanya dipertemukan oleh takdir?atau malah pertemuan itu terhalang oleh dendam Wigati yang belum terobati? baca selengkapnya di novelnya ya baraya..

Khilma Anis, sang penulis berkelahiran Jember, alumni Pondok Pesantren Tambakberas Jombang tersebut tidak main-main dalam mengambil sumber referensi mengenai dunia keris, falsafah jawa, dan kehidupan raja-raja di masa lampau. Ia begitu kental menuangkan gagasan sejarah dalam setiap jengkal cerita. Ia menyuguhkan kekayaan budaya jawa yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyrakat. Selain itu, latar pesantren yang diambil penulis membuktikan bahwa kehidupan sederhana dunia pesantren sesungguhnya memiliki daya tarik yang unik dan menarik.

Identitas Buku

Judul: Wigati; Lintang Manik Woro
Penulis: Khilma Anis
Tebal: 276 halaman
Tahun: 2018
Penerbit: Telaga Aksara
ISBN: 978-602-60400-9-1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here